Posted by: djarotpurbadi | December 12, 2009

Makam Misa Subani Timo

Nisan ini adalah makam Misa Subani Timo, yang dikenal sebagai menantu dari Usi Basan sekaligus dilegendakan sebagai pejuang otonomi adat Kaenbaun. Ada legenda di Kaenbaun yang menceritakan kehebatan Misa Subani Timo dalam memperjuangkan otonomi Kaenbaun. Nisan ini ada di dekat nisan Usi Neon Kaenbaun di Haumnasi.

Posted by: djarotpurbadi | December 12, 2009

Makam Usi Neno Kaenbaun

John Taus dan Edis Foni yang memandu rombongan peneliti Universitas Atma Jaya Yogyakarta sedang duduk di atas nisan Usi Neno Kaenbaun, yang terletak di Haumnasi, dekat Bnoko Kaenbaun. Nama desa Kaenbaun diambil dari nama Usi Neno Kaenbaun ini.

Posted by: djarotpurbadi | November 24, 2009

Kaenbaun Desa Mandiri Pangan

Kaenbaun Desa Mandiri Pangan, itu kesan akhir kunjungan kami. Menurut analisis sementara yang kami lakukan, desa Kaenbaun termasuk dalam kategori desa mandiri pangan dengan strategi ketahanan pangan yang unik. Jika setiap saat akan memasuki musim tanam para petani di Jawa harus membeli bibit, orang Kaenbaun tidak perlu panik sebab bibit selalu tersedia di setiap rumah tangga dan di rumah suku. Dalam keadaan sulit seperti apapun, orang Kaenbaun tidak akan pernah memakan jagung dan padi bibit yang mereka warisi dari nenek-moyang. Ini aturan adat yang masih dipatuhi. Para mama bahkan sudah mampu mendeteksi ketersediaan pangan dari dapur mereka, sebab dari simpanan jagung di dapur dapat diperkirakan dan diputuskan kapan harus makan makanan alternatif. Orang Kaenbaun termasuk “pemakan semua”, mulai dari pucuk daun asam hingga musang. Desa Kaenbaun kaya dengan makanan yang berasal dari flora dan faunanya.

Perkara yang menarik adalah, jika kini para petani di Jawa sudah kehilangan kedaulatan atas pertanian dan ketahanan pangan mereka diremote-control oleh pihak lain, maka di Kaenbaun tidaklah demikian.  Para petani di Jawa tidak lagi berdaulat atas bibit, pupuk, dan terutama atas kepemilikan tanah, maka mereka bukan lagi menjadi petani sejati, melainkan turun menjadi buruh tani saja. Fenomena ini kontras dengan yang ada di Kaenbaun, sebab mereka masih menguasai tanah adat, bibit jagung dan padi dari nenek-moyang, juga sistem pertanian yang alamiah (organik) karena adat Kaenbaun mengatur demikian. Jika para petani di Jawa sudah kehilangan kedaulatan atas pangan karena taat mengikuti program modernisasi pertanian versi pemerintah yang berbasis cara pikir dan ilmu pengetahuan modern, maka orang Kaenbaun masih berdaulat atas pangan dan pertanian mereka karena taat kepada aturan nenek-moyang yang dilandasi pengetahuan tradisional.

Jika sistem pertanian modern berbasis pada memperbesar input (pengetahuan, bibit, pupuk dsb) kepada situasi lokal, maka pertanian tradisional justru berusaha memanfaatkan secara efektif dan efisien semua kondisi dan situasi lokal untuk kehidupan lokal. Semakin besar input dari luar artinya semakin besar peluang intervensi luar atas kedaulatan lokal, dan artinya semakin besar pula ancaman atas kedaulatan pertanian dan pangan lokal. Menurut orang Kaenbaun, tidak selalu input dari luar cocok dengan sistem dan strategi pertanian / pangan mereka. Bahkan konon, bibit dari luar yang dianjurkan pemerintah justru mendatangkan hama baru dan pupuk pabrik hanya bermanfaat pada musim tanam pertama, seterusnya malahan mengeraskan dan menguruskan tanah.

Jelaslah, Kaenbaun memiliki konsep tata lingkungan yang cocok dengan konsep pertanian dan ketahanan pangan. Ada kearifan lokal yang sangat bagus di Kaenbaun dalam menata lingkungan yang bersinerji dengan mengelola pangan. Apakah diperlukan dialog tradisional dengan modern dalam kasus Kaenbaun, yang ingin juga maju dan berkembang dalam era saat ini dan untuk masa depan yang lebih baik ?

Nopember, 2009

Salam,

Djarot Purbadi (Arsitektur-Permukiman) dan Kianto Atmojo (Tekno-Biologi)

Posted by: djarotpurbadi | November 24, 2009

Batu Gong di Bnoko Kaenbaun

Tim Peneliti dari Universitas Atmajaya Yogyakarta dengan beberapa warga Kaenbaun sedang berada di dekat Batu Gong dan Singgasana Usif Bana Uf dan Neon Kaenbaun di Bnoko Kaenbaun, Nopember 2009.

Posted by: djarotpurbadi | November 24, 2009

Makam Taseko Bana

Sebelum mendaki bukit Kuun dan Kaenbaun (Nopember 2009), kami mengadakan ritual adat di makam Taseko Bana, seorang keturunan Bana Uf (cikal-bakal suku Basan) yang menjadi Temukung paling berwibawa pada jamannya. Pada waktu dimakamkan, hadir 11 temukung dari ketemukungan di sekitar Kaenbaun.

Posted by: djarotpurbadi | November 24, 2009

Salib di Puncak Kuun

Salib ini ada di puncak bukit Kuun, yang merupakan tempat suci bagi suku Taus di Kaenbaun karena di puncak ini terdapat batu suci (faotkana) suku Taus. Tim peneliti dari Universitas Atmajaya Yogyakarta berhasil mendaki puncak Kuun pada bulan Nopember 2009.

Posted by: djarotpurbadi | July 15, 2009

Pater John Salu dari Kaenbaun

Kamis, 18 Juni 2009 | 08:20 WITA

“HIDUP soal keberanian menghadapi yang tanda tanya, dan sungguh kekal kasih-Nya, abadi cinta-Nya”. Moto ini telah membawa Pater John G Salu, SVD menyelami karya kerasulan sampai memasuki pesta perak (25 tahun) imamat. Moto ini juga merefleksikan bahwa hidup tidak ada yang pasti. Untuk menghadapi ‘yang tanda tanya’, ia berprinsip satu hati, aneka wajah.

Menurut Pater John, demikian sapaannya, satu hati aneka wajah artinya baik dengan semua orang dengan tiga sikap hidup: face the reality, do the right and responsible (Hadapi kenyataan, buat baik dan tanggung jawab). Dengan prinsip inilah ia mau berbuat baik dengan semua orang: tua-muda, kecil-besar.

pater john salu

pater john salu

Sebagai seorang imam, Pater John juga memiliki moto pengabdian: “Berguru pada Sang Guru”. Moto ini diambil dari pengalaman hidupnya yang berasal dari keluarga guru — karena kedua orangtuanya guru — dan dari karya pelayanannya sejak awal yakni bidang pendidikan.  Moto ini telah mewarnai setiap doanya: “Tuhan jadikanlah aku guru yang berhati murid.”

Perjalanannya menuju imamat berawal dari kehidupan masa kecilnya yang dikelilingi oleh hal-hal yang berbau rohani. Pater John lahir di Kaenbaun, Kefamenanu, 12 Juli 1955. Ia  lahir dari orangtua yang berprofesi guru. Dia masuk SDK Kaenbaun tahun 1963. Tempat tinggalnya berdekatan dengan gereja, dan karena orangtuanya guru, setiap tamu yang datang pasti mampir di rumahnya.

Kehidupan para pastor zaman dulu yang sangat mulia membuatnya terinspirasi untuk menjadi pastor. Cita-citanya terwujud ketika ia memasuki Seminari Menengah Lilian tahun 1969.

Sebagai anak dari guru, ia dituntut untuk selalu nomor satu. Setelah menamatkan pendidikan di Seminari Lalian, ia melanjutkan dengan praktik pastoral di Manumean tahun 1975 dan novisiat di Seminari Tinggi Ladelero tahun 1977.

Pada tahun 1981, ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Yoseph Naikoten-Kupang. Selanjutnya, ia menjalani praktik diakonat di Paroki St. Mikhael Kumba, Ruteng, dan ditahbiskan menjadi imam, 15 Juni 1984.

Karya kerasulannya diawali dengan menjadi pastor pembantu Paroki Roh Kudus Labuan Bajo tahun 1984-1989. Pada tahun 1987, Pater John yang pernah menjadi Rektor Seminari Menengah Johanes Paulus II Labuan Bajo diangkat menjadi Kepala SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo.

“Saya dulu waktu kecil sebenarnya anak yang manis, tetapi nakalnya minta ampun. Makanya, menghadapi anak yang nakal, tidak sulit bagi saya. Kalau menghadapi  anak yang peminum, saya akan membeli minuman dan minum bersama, tetapi setelah itu akan saya bina dan arahkan, sehingga anak tersebut tidak akan pernah minum lagi,” kata pria hitam manis yang melakukan studi konseling di Filipina ini.

Bagi anggota Dewan Provinsi SVD Timor dan Ketua APTISI Komisariat NTT ini, hidup adalah melayani Yesus yang adalah Tuhan. Pengalaman dicintai karena kasih Allah membuatnya selalu mengutip kata-kata Bunda Maria,  ‘Jiwaku Memuliakan Tuhan’. Bunda Maria adalah andalannya ketika menghadapi kesulitan.

Karena baik dengan semua orang dan selalu berpikir positif, pria yang pernah menjadi Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH)/Sekreteris Eksekutif Yayasan Pendidikan Katolik  Arnoldus (Yapenkar) selama sepuluh tahun ini merasa tidak pernah memiliki musuh.

Dalam perayaan pesta perak yang berlangsung di Gereja St. Maria Assumpta, Kota Baru-Kupang, Senin (15/6/2009), Pater John yang pernah menjadi pastor kampus di Unwira Kupang dan saat ini menjadi dosen biasa menyampaikan terima kasih kepada SVD yang telah mengajar, melatih dan membimbingnya menjadi seorang biarawan, imam dan misionaris.

Utusan Kapitel General SVD XVI di Roma tahun 2006 ini mengakui dalam perjalanan pelayanannya sebagai imam banyak tantangan dan godaan, namun ia berupaya maksimal untuk mengatasinya dengan menjadikan semuanya sahabat dan saudara.

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para dermawan dan pendidik yang sudah membuat saya berarti,” katanya. (nia)

(Sumber: Pos Kupang, Juni 2009)

Posted by: djarotpurbadi | July 15, 2009

Buku Tentang Desa Kaenbaun

Dear All,

Tanggal 6 Juli 2009 telah terbit buku tentang desa Kaenbaun berjudul “Mengenal Desa Kaenbaun, Perjumpaan melalui Penelusuran Fenomena Visual” oleh penerbit Pustaka Mutiara Indonesia. Buku tersebut penuh dengan foto perjalanan kami untuk mengenal desa Kaenbaun dari aspek visual yang dikumpulkan dengan pendekatan fenomenologi Husserl yang diterapkan dalam arsitektur. Buku tersebut tebalnya sekitar 150 halaman full color tersedia dalam format pdf dengan besaran file sekitar 9 Mb.

Buku tentang Desa Kaenbaun ini dibuat untuk dipersembahkan kepada Pater John Salu, SVD dalam rangka ikut merayakan pesta perak Imamatnya dan sebagai tanda syukur atas pendampingan beliau dalam penelitian untuk disertasi dalam ilmu arsitektur tentang desa Kaenbaun yang saya kerjakan. Matur nuwun Pater John, semoga selalu sehat dan bahagia menjadi pekerja di ladang Tuhan.

Bagi para peminat yang menginginkannya dapat mengirim email kepada kami, yaitu kaenbaun@gmail.com dan akan dikirim via email. GRATIS.

Salam,

Djarot Purbadi

Sampul Buku Kaenbaun

Sampul Buku Kaenbaun

Posted by: djarotpurbadi | December 11, 2008

Keunikan Orang Kaenbaun

Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi

Desa Kaenbaun adalah desa tradisional Timor yang ditinggali oleh empat “suku besar” (disebut “suku laki-laki”), yakni suku Basan, Timo, Taus dan Foni dan empat “suku kecil” (disebut “suku perempuan”), yakni Sait, Salu, Kolo dan Nel yang hidup bersama dan bersaudara di dalamnya. Kedelapan suku di desa Kaenbaun termasuk ke dalam kelompok suku Dawan dan menggunakan bahasa Dawan. Suku Basan sebagai suku yang pertama kali datang di tempat itu dianggap sebagai “suku raja”, kemudian diikuti bergabungnya tiga suku yang lain (Timo, Taus dan Foni) sebagai suku-suku perintis awal. Dengan demikian, ke empat suku awal ini dianggap sebagai “suku pemilik desa” atau pemimpin kehidupan desa, seperti berlaku pada hampir semua suku-suku di Timor.

Desa Kaenbaun dari aspek sejarah terletak di dalam wilayah kerajaan kuno yang bernama Tunbaba. Desa Kaenbaun berbeda dari desa-desa lain di dalam diwilayah Tunbaba, sebab ia memiliki status sebagai desa otonom, yaitu memiliki raja lokal (suku Basan) berkat perjuangan tokoh lokal dan disetujui oleh Tua Amo (Raja Oekusi, masa lalu). Status otonomi ini memiliki implikasi pada aturan dan ritual adat, sebab warga desa Kaenbaun hanya menyerahkan upeti-upeti kepada suku Basan, bukan kepada suku Ukat dan Sakunab yang menjadi Raja di kerajaan tradisional Tunbaba. Status tradisional tersebut masih dipertahankan dan dilestarikan hingga saat ini, dan muncul tatanan yang mapan bahwa suku Basan adalah Raja Perempuan di Tunbaba sedangkan suku Ukat dan Sakunab adalah Raja Laki-laki di Tunbaba (Willem Foni, Juli 2004).

Orang Kaenbaun terkenal sebagai orang yang sangat hormat dan taat kepada leluhur, antara lain karena selalu memulai dan mengakhiri kegiatan dengan ritual adat, baik ritual siklus pertanian maupun siklus hidup. Hal ini menunjukkan bahwa leluhur terlibat dalam setiap tindakan warga Kaenbaun dari skala desa hingga skala individu. Hubungan yang dekat antara leluhur dan keturunannya juga tercermin pada nama orang Kaenbaun, yang hampir selalu menggunakan nama leluhur sebagai wujud hormat kepada mereka. Nama leluhur diberikan oleh leluhur kepada seseorang melalui tanda-tanda tertentu, entah melalui mimpi atau pengamatan fisik dan perilaku seseorang. Dapat dikatakan, warga Kaenbaun sangat hormat dan taat kepada leluhur mereka (leluhur desa maupun leluhur suku). Ketaatan kepada tradisi tampaknya menjadi semacam paradigma dalam kehidupan warga desa Kaenbaun.

Di desa Kaenbaun terdapat rumah adat yaitu tempat suci untuk mengadakan ritual adat. Ada lima buah rumah adat yaitu untuk empat suku pendiri desa (Basan, Timo, Taus dan Foni) dan satu rumah adat untuk suku perempuan (direpresentasikan pada rumah adat suku Nel). Kelima rumah adat suku di Kaenbaun tersebut terletak berdekatan dan di area pusat permukiman, sehingga sapat dikatakan merupakan ”pusat lingkungan” yang bernilai tradisi lokal. Rumah adat tersebut memiliki ciri dua tiang dan dua altar yang terletak di luar dan di dalam rumah adat. Tiang atau altar luar disebut haumonef (kayu laki-laki) dan tiang di dalam rumah adat dipahami sebagai tiang perempuan yang di bawah tiang terdapat batu suci leluhur. Upacara adat di rumah adat selalu dimulai dari doa di altar luar yang intinya mengundang roh-roh leluhur untuk hadir dalam upacara adat yang disiapkan. Selanjutnya, upacara adat dilaksanakan di dalam rumah adat, berdoa menghadap tiang perempuan di dalam rumah adat dan batu suci yang ada di bawahnya.

Gereja Katolik ada di Kaenbaun sejak era ketemukungan di Kaenbaun, sekitar tahun 1930-an. Bahkan di desa Niufbanu yang merupakan desa pertama pasca-perangsuku dan tempat kediaman temukung Kaenbaun (Raja Lokal) terdapat gedung Gereja dan kompleks sekolah rakyat (SD) yang menjadi pusat kunjungan warga Kaenbaun dan desa-desa sekitarnya. Gereja dan sekolah pernah menjadi pusat misi Katolik di pedalaman karena menjadi pusat paroki sementara, kemudian surut karena pusat paroki dipindahkan ke Kuatnana (ibukota kerajaan Tunbaba). Sejak lama pastor selalu berkunjung ke Kaenbaun untuk melayani Misa Kudus namun tidak tinggal disana, hanya datang dan melayani ibadah lalu kembali ke posnya.

Ditinjau dari aspek spiritualitas atau keyakinan agama, warga Kaenbaun memeluk agama Katolik dan menjalankan ritual adat sesuai dengan tuntunan leluhur. Memang ritual adat pernah dilarang di Kaenbaun (dan Timor umumnya), namun sejak pasca Konsili Vatikan II (tahun 1967) kebudayaan lokal (termasuk ritual adat) dihormati oleh Gereja Katolik sebagai kekayaan budaya yang dapat diangkat dan dilibatkan dalam liturgi Gerejani. Perubahan paradigma dan sikap Gereja Katolik terhadap kebudayaan lokal mendorong berkembangnya situasi, warga Kaenbaun menghayati keduanya sekaligus sesuai kebutuhannya. Upacara adat selalu diawali dan diakhiri dengan doa Katolik dan hal itu dianggap sebagai sebuah keharusan hingga saat ini. Orang Kaenbaun selalu menyalakan lilin dan diletakkan di batu suci leluhur ketika melaksanakan upacara adat, selain itu mereka juga memakan daging hewan korban dan meminum arak lokal (sopi). Dapat dikatakan, orang Kaenbaun adalah 100% Dawan dan 100% Katolik, meminjam dan mengalihsituasikan frase ciptaan Mgr. Sugiyapranata yang terkenal di jaman revolusi fisik di Jawa Tengah yang menggambarkan identitas bahwa orang Katolik adalah 100% Katolik dan 100% Indonesia.

(Sumber: pengamatan lapangan, Juli 2004 dan Mei 2006)

—————

Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Posted by: djarotpurbadi | December 11, 2008

Mengenal Desa Kaenbaun

Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi

Desa Kaenbaun yang luasnya sekitar 1.000 ha terletak di kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara. Letak desa tradisional ini cukup dekat dengan ibukota Kecamatan, yakni kota Kefamenanu. Lingkungan fisik desa Kaenbaun berbukit-bukit, permukiman warga (kuan) terletak relatif di tengah tanah adat yang luasnya 1.000 ha. Di desa Kaenbaun ada satu sungai yang airnya jernih dan tidak kering sepanjang tahun, bentuknya berliku-liku menembus di tengah tanah adat desa. Sungai tersebut dimanfaatkan oleh warga Kaenbaun sebagai bagian dari tata permukiman mereka, sehingga tatanan ruang permukiman mengikuti bentuk liku-liku sungai. Bahkan sebagian permukiman warga ada yang diletakkan di dekat sungai agar dapat dimanfaatkan sebagai bagian belakang dari rumah tinggal mereka.

Nama “Kaenbaun” diambil dari nama leluhur mereka (Neon Kaenbaun) yang sekaligus menjadi nama bukit tempat ia dimakamkan di puncaknya. Bukit Kaenbaun (Bnoko Kaenbaun) adalah bukit batu karang terjal yang menjadi tempat bermukim pertama kali empat suku utama (Basan, Timo, Taus dan Foni) ketika suasana perang suku masih berkecamuk di seluruh pulau Timor. Mereka dapat selamat karena mendapat perlindungan secara fisik oleh bukit karang tersebut. Sebenarnya ada tiga versi lain tentang nama Kaenbaun, yaitu (1) Kaenbaun artinya bertahan asli atau taat kepada leluhur, (2) Kaenbaun artinya belum pernah terkalahkan dalam perang suku, dan (3) Kaenbaun terkait dengan legenda adanya ”batu gong” yang keramat di bawah bukit Kaenbaun (di dalam goa di bawah tanah pada Bnoko Kaenbaun).

Data per Januari 2005 menunjukkan bahwa jumlah rumah di Kaenbaun sebanyak 138 buah. Jumlah penduduknya adalah 556 orang dengan rincian jumlah keluarga (KK) sebanyak 147; penduduk laki – laki 294 orang dan perempuan 262 orang. Selain itu juga ada keluarga menumpang (tidak memiliki rumah) sebanyak 10 orang. Menurut seorang tetua desa, penduduk Kaenbaun tambahnya sedikit sebab dalam setahun hanya ada 10 pasangan yang menikah. Selain itu warga muda – muda cenderung meninggalkan desa dan pergi merantau ke kota. Penduduk yang tinggal di desa adalah para orang tua atau para lelaki yang secara adat diharuskan tinggal di desa leluhur memelihara dan merawat rumah adat atau rumah suci keluarga (suku). Orang Kaenbaun sebagian besar berpendidikan rendah (SD) dan hanya sebagian kecil yang sempat menempuh pendidikan di SMP, SMA atau Perguruan Tinggi. Di Kaenbaun hanya ada beberapa lulusan sarjana S1 dan ada 2 (dua) orang yang sempat meraih pendidikan S2 (Pater John Salu dan Willem Foni). Mereka yang berpendidikan SMA ke atas umumnya bekerja dan tinggal di luar Kaenbaun, sebagai pekerja di kota di NTT atau luar NTT.

Di desa Kaenbaun hanya terdapat satu fasilitas pendidikan berupa SD (Sekolah Dasar) swasta yang dikelola oleh yayasan berasaskan Katolik. Pada masa lalu SD ini terletak di desa Niufbanu dan berada di samping gedung Gereja Santo Yohanes Pemandi. Keberadaan SD dan Gereja di Niufbanu pernah menjadi pusat kegiatan bagi warga desa Kaenbaun maupun desa-desa sekitarnya (Tuntun, Bitefa, Fatusene, Bokon, dll). Sekarang SDK Kaenbaun tidak memiliki murid dari desa-desa lain dan dalam beberapa tahun belakangan ini dapat dikatakan SDK Kaenbaun hanya untuk anak-anak Kaenbaun. SDK Kaenbaun dilengkapi dengan asrama guru yang juga berperan sebagai katekis (guru agama) bagi desa Kaenbaun. Fasilitas umum lainnya adalah: kantor balai desa, polindes, gedung Gereja, dan rumah adat suku sebanyak 5 buah.

Pekerjaan utama warga Kaenbaun adalah petani lahan kering, yang menanam jagung sebagai tanaman utama yang disucikan dengan upacara adat yang ketat dalam proses penanaman hingga pemetikannya. Selain itu mereka juga menanam padi ladang dan tanaman biji-bijian yang lain serta sayur-mayur yang diperlukan. Jagung sebagai tanaman suci diperlakukan istimewa. Jagung hasil petik di kebun disimpan di dalam rumah bulat (umebubu) yang merupakan bangunan suci keluarga karena di dalamnya terdapat batu suci keluarga untuk pelaksanaan doa keluarga. Jagung upeti dari setiap keluarga atau suku disimpan di rumah suku (umesuku) sebagai bibit yang suci karena ketentuan leluhur mengharuskan demikian. Sistem pertanian di Kaenbaun adalah ladang berpindah, yang berpindah-pindah di dalam lingkungan tanah adat mereka secara teratur untuk memberi kesempatan lahan-lahan menjadi subur kembali dan hasilnya besar.

Orang Kaenbaun juga memelihara hewan, antara kain sapi, babi, kambing, ayam dan anjing. Kerbau pernah ada di Kaenbaun, sekarang sudah musnah karena habis digunakan untuk upacara adat. Hewan di Kaenbaun tidak ada yang dimanfaatkan untuk pertanian, melainkan hanya untuk upacara adat, baik untuk keperluan keluarga maupun diperjual belikan diantara warga Kaenbaun. Hewan yang umum digunakan untuk upacara adat adalah babi dan ayam. Selama kunjungan lapangan, tidak ditemukan adanya kuda berkeliaran atau dipelihara di Kaenbaun. Orang Kaenbaun memelihara anjing untuk menjaga keamanan desa dan dimanfaatkan untuk membantu kegiatan berburu oleh orang-orang yang memiliki hobi berburu musang.

(Sumber: pengamatan lapangan, Juli 2004 dan Mei 2006)

—————-

Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Older Posts »

Categories