Posted by: djarotpurbadi | October 8, 2008

Kearifan Lokal Bangunan Umebubu

Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi

Di desa Kaenbaun di pulau Timor terdapat tipe bangunan umebubu atau rumah bulat. Menurut para kepala suku, umebubu adalah bangunan pertama yang harus didirikan oleh sebuah rumah tangga di desa Kaenbaun. Pedoman tersebut sama dengan tradisi nenek-moyang, orang Kaenbaun harus membangun umebubu sebagai bangunan pertama, sebelum bangunan lain didirikan. Artinya, bangunan lain boleh didirikan setelah umebubu berdiri. Mengapa harus demikian ? Kearifan apa yang tersembunyi pada bangunan umebubu di desa Kaenbaun ?

Elemen penting di dalam suatu umebubu adalah (1) tungku tiga batu, (2) tiang suci dan (3) batu suci. Tungku tiga batu menunjukkan bahwa umebubu merupakan tempat untuk memasak. Orang Kaenbaun memasak makanan di dalam umebubu sambil mengawetkan (mengasapi) jagung yang terletak pada para-para di atas tungku tiga batu. Biasanya tungku tiga batu terletak di tengah ruangan, sehingga dapat mengasapi jagung diatasnya secara merata. Umebubu memang digunakan untuk menyimpan dan mengawetkan jagung, yang merupakan tanaman suci di Kaenbaun. Artinya, secara fungsional, umebubu adalah dapur dan gudang jagung skala keluarga.

Tiang suci di dalam umebubu merupakan tempat yang digunakan untuk menggantungkan pusaka nenek-moyang (parang, tombak, senapan kuno / senapan tumbuk) dan benda lain warisan nenek-moyang dalam sebuah tas anyaman lontar. Keberadaan tiang suci selalu terkait dengan batu suci (faut leu) yang biasanya diletakkan di bawah tiang suci. Orang Kaenbaun jika melakukan upacara adat selalu mengelilingi tiang suci dan batu suci umebubu tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa umebubu merupakan sebuah tempat suci untuk berdoa dan berjumpa dengan nenek-moyang yang diyakini hadir di batu suci. Bagi orang Kaenbaun, upacara adat mengelilingi batu suci dan tiang suci adalah berjumpa dengan nenek-moyang.

Pada tradisi nenek-moyang, perempuan (istri) dan anak-anak yang tinggal di dalam umebubu. Anak-anak dan perempuan (istri) bagi orang Kaenbaun adalah harta yang sangat tinggi nilainya. Pusaka keluarga, perempuan dan anak-anak merupakan harta yang sangat bernilai, maka harus dilindungi di dalam umebubu. Fenomena ini menunjukkan bahwa umebubu merupakan tempat untuk menyimpan harta nenek-moyang, harta pusaka keluarga dan generasi penerus suku. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa umebubu adalah bangunan perlindungan dan penyimpanan harta-pusaka keluarga.

Proses membangun sebuah umebubu selalu diawali dengan meletakkan batu suci, disusul tiang suci, semuanya dengan upacara adat. Bagi orang Kaenbaun, jika sesuatu dilakukan dengan disertai upacara adat, maka itu berarti nenek-moyang diundang dan dilibatkan di dalamnya. Artinya, tindakan meletakkan batu suci dan tiang suci bermakna fungsional dan spiritual, sebab nenek-moyang hadir dan terlibat di dalam tindakan tersebut. Paparan tersebut diatas menunjukkan bahwa benda terpenting di dalam umebubu adalah batu suci (faut leu).

Batu suci sebagai elemen terpenting di dalam umebubu dan diletakkan pertama kali melalui upacara adat menunjukkan pikiran orang Kaenbaun bahwa kehidupan harus dimulai dari sebuah titik yang suci. Orang Kaenbaun memulai kehidupan sebuah rumah tangga dengan meletakkan batu suci dan tiang suci sebagai awal pendirian rumah tinggal yang lengkap. Artinya, mereka memulai hidup keluarga dengan kesucian sebagai awal dan didampingi serta direstui nenek-moyang. Bagi orang Kaenbaun, batu suci menjadi titik penjuru yang mengawali kehidupan setiap rumah tangga. Kesucian adalah sumber hidup, dan hidup menyatu dengan nenek-moyang adalah hidup yang ideal.

Menurut orang Kaenbaun tindakan mereka dilandasi pikiran yang sangat khas, yaitu mereka secara khusus meletakkan elemen komunikasi dengan nenek-moyang berupa batu suci dan tiang suci. Ritual adat untuk berjumpa dengan nenek-moyang selalu dilakukan pada batu suci dan tiang suci umebubu. Kejadian ini menegaskan bahwa ikatan batin orang Kaenbaun dengan nenek-moyang mereka merupakan fenomena yang paling penting. Mereka meyakini bahwa nenek-moyang selalu mendampingi dan memberi hidup, sebab nenek-moyang ada di dekat Tuhan. Bagi orang Kaenbaun, nenek-moyang menjadi perantara bagi mereka kepada Tuhan. Oleh karenanya, komunikasi dengan nenek-moyang menjadi sebuah keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.Dekat dengan nenek-moyang artinga dekat dengan sumber berkah dan keselamatan.

Atas dasar uraian tersebut tampak dengan jelas bahwa umebubu bukan sekedar bangunan fisik, melainkan bangunan penting yang memiliki dimensi fungsional dan transenden (spiritual) sangat penting bagi orang Kaenbaun. Bukan bangunan umebubu sebagai pelingkup yang terpenting, melainkan isinya, yaitu keberadaan batu suci dan tiang suci di dalamnya. Dapat dikatakan, orang Kaenbaun tidak sempurna dan belum sah membangun sebuah keluarga jika tidak memiliki batu suci dan tiang suci. Umebubu sangat penting sebab, setiap awal kehidupan rumah tangga di Kaenbaun selalu dimulai dari titik suci atau hal-hal yang suci yaitu meletakkan batu suci di dalam umebubu. Tampaknya, bagi orang Kaenbaun, hidup selalu di awali dengan kesucian dan menyatu dengan nenek-moyang. Konon, nenek-moyang orang Kaenbaun ada di dekat Tuhan, sehingga dapat menjadi perantara bagi mereka.

Melalui bangunan dan proses pembangunan umebubu terdapat kearifan lokal orang Kaenbaun, bahwa hidup selalu diawali dari dimensi kesucian. Bagi mereka hidup yang ideal selalu bersumber pada berkah Tuhan dan pendampingan nenek-moyang yang diyakini tinggal di dekat Tuhan. Spiritualitas yang mengedepankan kesucian sebagai awal pendirian bangunan rumah tinggal merupakan nilai budaya yang sangat tinggi di kalangan orang Kaenbaun. Nenek-moyang orang Kaenbaun memberikan pelajaran sangat bernilai, bahwa penciptaan ruang kehidupan selalu diawali dari titik yang suci, bukan yang lain.

————-

Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada


Leave a response

Your response:

Categories