Oleh: Djarot Purbadi, Sudaryono dan Achmad Djunaedi
Desa Kaenbaun adalah desa tradisional Timor yang ditinggali oleh empat “suku besar” (disebut “suku laki-laki”), yakni suku Basan, Timo, Taus dan Foni dan empat “suku kecil” (disebut “suku perempuan”), yakni Sait, Salu, Kolo dan Nel yang hidup bersama dan bersaudara di dalamnya. Kedelapan suku di desa Kaenbaun termasuk ke dalam kelompok suku Dawan dan menggunakan bahasa Dawan. Suku Basan sebagai suku yang pertama kali datang di tempat itu dianggap sebagai “suku raja”, kemudian diikuti bergabungnya tiga suku yang lain (Timo, Taus dan Foni) sebagai suku-suku perintis awal. Dengan demikian, ke empat suku awal ini dianggap sebagai “suku pemilik desa” atau pemimpin kehidupan desa, seperti berlaku pada hampir semua suku-suku di Timor.
Desa Kaenbaun dari aspek sejarah terletak di dalam wilayah kerajaan kuno yang bernama Tunbaba. Desa Kaenbaun berbeda dari desa-desa lain di dalam diwilayah Tunbaba, sebab ia memiliki status sebagai desa otonom, yaitu memiliki raja lokal (suku Basan) berkat perjuangan tokoh lokal dan disetujui oleh Tua Amo (Raja Oekusi, masa lalu). Status otonomi ini memiliki implikasi pada aturan dan ritual adat, sebab warga desa Kaenbaun hanya menyerahkan upeti-upeti kepada suku Basan, bukan kepada suku Ukat dan Sakunab yang menjadi Raja di kerajaan tradisional Tunbaba. Status tradisional tersebut masih dipertahankan dan dilestarikan hingga saat ini, dan muncul tatanan yang mapan bahwa suku Basan adalah Raja Perempuan di Tunbaba sedangkan suku Ukat dan Sakunab adalah Raja Laki-laki di Tunbaba (Willem Foni, Juli 2004).
Orang Kaenbaun terkenal sebagai orang yang sangat hormat dan taat kepada leluhur, antara lain karena selalu memulai dan mengakhiri kegiatan dengan ritual adat, baik ritual siklus pertanian maupun siklus hidup. Hal ini menunjukkan bahwa leluhur terlibat dalam setiap tindakan warga Kaenbaun dari skala desa hingga skala individu. Hubungan yang dekat antara leluhur dan keturunannya juga tercermin pada nama orang Kaenbaun, yang hampir selalu menggunakan nama leluhur sebagai wujud hormat kepada mereka. Nama leluhur diberikan oleh leluhur kepada seseorang melalui tanda-tanda tertentu, entah melalui mimpi atau pengamatan fisik dan perilaku seseorang. Dapat dikatakan, warga Kaenbaun sangat hormat dan taat kepada leluhur mereka (leluhur desa maupun leluhur suku). Ketaatan kepada tradisi tampaknya menjadi semacam paradigma dalam kehidupan warga desa Kaenbaun.
Di desa Kaenbaun terdapat rumah adat yaitu tempat suci untuk mengadakan ritual adat. Ada lima buah rumah adat yaitu untuk empat suku pendiri desa (Basan, Timo, Taus dan Foni) dan satu rumah adat untuk suku perempuan (direpresentasikan pada rumah adat suku Nel). Kelima rumah adat suku di Kaenbaun tersebut terletak berdekatan dan di area pusat permukiman, sehingga sapat dikatakan merupakan ”pusat lingkungan” yang bernilai tradisi lokal. Rumah adat tersebut memiliki ciri dua tiang dan dua altar yang terletak di luar dan di dalam rumah adat. Tiang atau altar luar disebut haumonef (kayu laki-laki) dan tiang di dalam rumah adat dipahami sebagai tiang perempuan yang di bawah tiang terdapat batu suci leluhur. Upacara adat di rumah adat selalu dimulai dari doa di altar luar yang intinya mengundang roh-roh leluhur untuk hadir dalam upacara adat yang disiapkan. Selanjutnya, upacara adat dilaksanakan di dalam rumah adat, berdoa menghadap tiang perempuan di dalam rumah adat dan batu suci yang ada di bawahnya.
Gereja Katolik ada di Kaenbaun sejak era ketemukungan di Kaenbaun, sekitar tahun 1930-an. Bahkan di desa Niufbanu yang merupakan desa pertama pasca-perangsuku dan tempat kediaman temukung Kaenbaun (Raja Lokal) terdapat gedung Gereja dan kompleks sekolah rakyat (SD) yang menjadi pusat kunjungan warga Kaenbaun dan desa-desa sekitarnya. Gereja dan sekolah pernah menjadi pusat misi Katolik di pedalaman karena menjadi pusat paroki sementara, kemudian surut karena pusat paroki dipindahkan ke Kuatnana (ibukota kerajaan Tunbaba). Sejak lama pastor selalu berkunjung ke Kaenbaun untuk melayani Misa Kudus namun tidak tinggal disana, hanya datang dan melayani ibadah lalu kembali ke posnya.
Ditinjau dari aspek spiritualitas atau keyakinan agama, warga Kaenbaun memeluk agama Katolik dan menjalankan ritual adat sesuai dengan tuntunan leluhur. Memang ritual adat pernah dilarang di Kaenbaun (dan Timor umumnya), namun sejak pasca Konsili Vatikan II (tahun 1967) kebudayaan lokal (termasuk ritual adat) dihormati oleh Gereja Katolik sebagai kekayaan budaya yang dapat diangkat dan dilibatkan dalam liturgi Gerejani. Perubahan paradigma dan sikap Gereja Katolik terhadap kebudayaan lokal mendorong berkembangnya situasi, warga Kaenbaun menghayati keduanya sekaligus sesuai kebutuhannya. Upacara adat selalu diawali dan diakhiri dengan doa Katolik dan hal itu dianggap sebagai sebuah keharusan hingga saat ini. Orang Kaenbaun selalu menyalakan lilin dan diletakkan di batu suci leluhur ketika melaksanakan upacara adat, selain itu mereka juga memakan daging hewan korban dan meminum arak lokal (sopi). Dapat dikatakan, orang Kaenbaun adalah 100% Dawan dan 100% Katolik, meminjam dan mengalihsituasikan frase ciptaan Mgr. Sugiyapranata yang terkenal di jaman revolusi fisik di Jawa Tengah yang menggambarkan identitas bahwa orang Katolik adalah 100% Katolik dan 100% Indonesia.
(Sumber: pengamatan lapangan, Juli 2004 dan Mei 2006)
—————
Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, kandidat doktor Arsitektur pada Program Pasca-sarjana Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Ir. Sudaryono, M.Eng.PhD, asisten profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D, profesor pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Menyimak desa amatan ini sangat menarik. Timbul pertanyaan: apakah nenek moyang dari penduduk ini nelayan ataukah petani? Bagaimana ya Pak prosentase matapencaharian mereka, banyak petani atau nelayan? Penduduk berada di bukit, adakah sejarah bahwa mereka dulu tinggal di pesisir; terus apa kemudian mereka terkena bencana laut sehingga ke bukit; mengingatkan saya akan borobudur yang ditimbun matrial piroklastik Merapi dan memaksa dinasti saat itu exodus ke arah timur.
By: triyono on January 12, 2009
at 6:47 am
Mas Tri, nenek-moyang orang Kaenbaun pernah tinggal di pesisir Wini dekat Oekusi. Mereka bahkan pernah punya “kolam buaya” di laut dekat Wini, sebab secara rutin ada upacara adat di kolam itu. Mereka migrasi ke pedalaman (Kaenbaun) karena tidak tahan hidup di pantai (banyak nyamuk), perang suku, dan konflik dengan buaya pujaannya. Perang suku di Timor memaksa mereka tinggal di puncak gunung batu, setelah mereda barulah tinggal di dataran rendah. Mereka tampaknya bukan nelayan, sebab penduduk Timor umumnya migran dari pulau lain, pada lari ke pedalaman karena perang suku di pantai menyebar luas ke pedalaman. Sejarah pulau-pulau di Indonesia Timur banyak yang terkait dengan migrasi antar pulau. Migran yang baru dengan budaya yang lebih tinggi datang di pantai dan mendesak migran lama ke pegunungan. Ada hipotesis bahwa suku-suku yang lebih tua umumnya tinggal di pegunungan.
By: djarotpurbadi on January 12, 2009
at 11:44 pm
trims mas djarot atas ulasannya, betul orang kaenbaun sangat unik. dari pengalaman saya di wilyahTunbaba orang kaenbaunlah yang utama sadar akan pentingnya pendidikan. di awal tahun 5oan samai 60an persentasi orang kaenbaun yang belajar di sekolah menengah lebih banyak dibanding desa lain di Tunbaba. Majoritasnya guru yang menyebar mengajar ke tempat lain. saya juga melihat bahwa orang kaenbaun memiliki tingkat kemandirian yang tinggi dalam arti mereka bangga akan kekaenbaunan dan kekatolikannya. P. John. G. Salu, SVD
By: p. john g salu, svd on February 19, 2009
at 8:05 am
mas jarot, pemberian nama tempat di kaenbaun ada yang memakai nama orang, ada nama pohon dsb sesuai dengan peritiwa, misalnya;nifu banu dibaca niufbanu artinya sungainya para janda atau duda. bisa juga berarti sungai yang tk boleh dijamah atau dilindungi. Nefo metam dibaca neof metam artinya danau hitam,. take artinya tempat dimana orang di beri kuk, taupi artinya tempat dimana ada pohon taupi sejenis pohon kuning. banasu?oel bonak adalah tempat dimana ada mata air dibawah pohon bonak sejenis pohon wangi. nai mea? tanah merah, maman adalah tempat yang sejuk dan dipenuhi dengan sirih pinang, kelapa dan mata air/tempat yang rindang dan menyegarkan. Oem toman ? hau tium sejenis pohon, tlami artinya dijilat. saiknamo?koff in artinya tempat yang ada ulat buluh, aijao telo artinya tempat dimana ada cemarah yang mmenjulang.lais noen artinya tempat dimana orang membuat perkara dan kuun artinya sarangnya, induknya. besbobe sejenis pohon namanya kabesak, nun usaf artinya beringin dimana disimpan tali pusat bayi yang dilahirkan. bao, nama orang
By: p. john g salu, svd on February 19, 2009
at 8:32 am
Salam kenal dari Putra Timor juga. El Talok, Roma, Italy
By: El on March 7, 2009
at 9:13 am
Salam kenal juga dari saya, warga baru di Kaenbaun…saya termasuk suku perempuan… alias golongan pendatang di Kaenbaun….mungkin marganya Salu…hehehehe….
Desa Kaenbaun sangat menarik dan menyimpan banyak harta karun teori lokal untuk membangun Indonesia berbasis budaya lokal tanpa menutup mata terhadap kemajuan jaman. Bung El Talok saya undang mengisi blog ini tentang catatan budaya lokal Timor…saya sangat berbahagia jika anda mau berpartisipasi di dalam blog ini !
Selamat bertugas.
By: djarotpurbadi on April 2, 2009
at 1:28 am
Makasih, semoga Kaenbaun tetap damai, sembari melangkah pasti menuju kemajuan yang menggembirakan…. Sayang sekali, saya belum pernah ke sana, malah…. Sering bolak-balik Atambua-Kupang, lewat wilayah Kefamnanu (TTU), namun belum pernah masuk jauh-jauh ke sana. Pernah singgah sebentar di salah satu desa, dekat Kota Kefa, yakni Tunbaba, juga Kiupukan, dan pernah di Kaki Gunung Mutis, tetapi termasuk wilayah So’E (TTS). Beta belum lengkap menjadi orang Timor. Melihat foto di bukit2 batu itu, wow, rupanya menarik banget Kaenbaun itu…. Salamku.
By: El Talok on May 12, 2009
at 12:10 am
Bung El Talok, barangkali saya sangat beruntung, sebab Kaenbaun itu desa yang unik. Salah satu keunikannya, ia adalah desa yang otonom secara adat dengan bukti upacara adat siklus pertanian di awali dari umesuku Basan dan berakhir juga di umesuku Basan. Jagung bibit dari umesuku Basan dan jagung upeti diserahkan ke umesuku Basan dan kearifan ini adalah manajemen lingkungan serta ketahanan pangan ala Kaenbaun !
Saya tenggelam di Kaenbaun karena jasa dan budi baik saudara saya Pater John Gualbertus Salu, SVD. Beliau ini putra Kaenbaun yang juga punya ikatan silsilah dengan desa Bokon. Konon beliau adalah pastur generasi pertama setelah kutukan seorang Pater Portugis dihilangkan (peristiwa Bulis)……masih banyak dongeng lain.
Foto-foto lain masih banyak, sementara belum dipublikasi sebab baru akan saya gunakan untuk ujian disertasi tentang Arsitektur desa Kaenbaun. Dalam waktu dekat setelah selesai ujian foto-foto menawan itu akan menghiasi blog Kaenbaun ini !
Nah. jika ada kesempatan mampir di Kaenbaun, cari putra Kaenbaun di Kefa misalnya John Taus, d/a SMPK Putra Kefa Jln. Yos Soedarso Kefamenanu atau putra Kaenbaun di Kupang yaitu Willem Foni !
By: djarotpurbadi on May 12, 2009
at 6:39 am
salam sejahtera, sy adlh mahasiswa S2 UNDIP asal Timor. sy merasa sangat bangga terhadap pak djarot yg telah mengangkat budaya lokal kami. jika bapak telah menjadi Doktor, tolonglah bimbing mahasiswa yang lain untuk meneliti di tanah timor. dan ini merupakan usulan, apakah setelah bapak bisa meneliti tentang raja-raja serta kerajaan di Timor?
By: Andri Amabi on May 17, 2009
at 6:38 am
Bung Andri Amabi yang baik, saya bahagia dan sangat bangga mendapat kesempatan meneliti dan mengangkat salah satu budaya lokal, khususnya Timor dan lebih khusus Dawan di Kaenbaun. Saya akan sangat bahagia jika ada sahabat-sahabat dari Timor yang juga mau seperti saya berusaha mengangkat budaya Timor. Pastilah dengan senang hari saya mau berbagi dengan anda semua untuk melestarikan warisan nenek-moyang kita ke khasanah dunia ilmu. Semoga Tuhan merestui keinginan kita ini dan memberi jalan untuk sukses mewujudkannya !
By: djarotpurbadi on May 17, 2009
at 3:52 pm