Posted by: djarotpurbadi | July 15, 2009

Pater John Salu dari Kaenbaun

Kamis, 18 Juni 2009 | 08:20 WITA

“HIDUP soal keberanian menghadapi yang tanda tanya, dan sungguh kekal kasih-Nya, abadi cinta-Nya”. Moto ini telah membawa Pater John G Salu, SVD menyelami karya kerasulan sampai memasuki pesta perak (25 tahun) imamat. Moto ini juga merefleksikan bahwa hidup tidak ada yang pasti. Untuk menghadapi ‘yang tanda tanya’, ia berprinsip satu hati, aneka wajah.

Menurut Pater John, demikian sapaannya, satu hati aneka wajah artinya baik dengan semua orang dengan tiga sikap hidup: face the reality, do the right and responsible (Hadapi kenyataan, buat baik dan tanggung jawab). Dengan prinsip inilah ia mau berbuat baik dengan semua orang: tua-muda, kecil-besar.

pater john salu

pater john salu

Sebagai seorang imam, Pater John juga memiliki moto pengabdian: “Berguru pada Sang Guru”. Moto ini diambil dari pengalaman hidupnya yang berasal dari keluarga guru — karena kedua orangtuanya guru — dan dari karya pelayanannya sejak awal yakni bidang pendidikan.  Moto ini telah mewarnai setiap doanya: “Tuhan jadikanlah aku guru yang berhati murid.”

Perjalanannya menuju imamat berawal dari kehidupan masa kecilnya yang dikelilingi oleh hal-hal yang berbau rohani. Pater John lahir di Kaenbaun, Kefamenanu, 12 Juli 1955. Ia  lahir dari orangtua yang berprofesi guru. Dia masuk SDK Kaenbaun tahun 1963. Tempat tinggalnya berdekatan dengan gereja, dan karena orangtuanya guru, setiap tamu yang datang pasti mampir di rumahnya.

Kehidupan para pastor zaman dulu yang sangat mulia membuatnya terinspirasi untuk menjadi pastor. Cita-citanya terwujud ketika ia memasuki Seminari Menengah Lilian tahun 1969.

Sebagai anak dari guru, ia dituntut untuk selalu nomor satu. Setelah menamatkan pendidikan di Seminari Lalian, ia melanjutkan dengan praktik pastoral di Manumean tahun 1975 dan novisiat di Seminari Tinggi Ladelero tahun 1977.

Pada tahun 1981, ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Yoseph Naikoten-Kupang. Selanjutnya, ia menjalani praktik diakonat di Paroki St. Mikhael Kumba, Ruteng, dan ditahbiskan menjadi imam, 15 Juni 1984.

Karya kerasulannya diawali dengan menjadi pastor pembantu Paroki Roh Kudus Labuan Bajo tahun 1984-1989. Pada tahun 1987, Pater John yang pernah menjadi Rektor Seminari Menengah Johanes Paulus II Labuan Bajo diangkat menjadi Kepala SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo.

“Saya dulu waktu kecil sebenarnya anak yang manis, tetapi nakalnya minta ampun. Makanya, menghadapi anak yang nakal, tidak sulit bagi saya. Kalau menghadapi  anak yang peminum, saya akan membeli minuman dan minum bersama, tetapi setelah itu akan saya bina dan arahkan, sehingga anak tersebut tidak akan pernah minum lagi,” kata pria hitam manis yang melakukan studi konseling di Filipina ini.

Bagi anggota Dewan Provinsi SVD Timor dan Ketua APTISI Komisariat NTT ini, hidup adalah melayani Yesus yang adalah Tuhan. Pengalaman dicintai karena kasih Allah membuatnya selalu mengutip kata-kata Bunda Maria,  ‘Jiwaku Memuliakan Tuhan’. Bunda Maria adalah andalannya ketika menghadapi kesulitan.

Karena baik dengan semua orang dan selalu berpikir positif, pria yang pernah menjadi Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH)/Sekreteris Eksekutif Yayasan Pendidikan Katolik  Arnoldus (Yapenkar) selama sepuluh tahun ini merasa tidak pernah memiliki musuh.

Dalam perayaan pesta perak yang berlangsung di Gereja St. Maria Assumpta, Kota Baru-Kupang, Senin (15/6/2009), Pater John yang pernah menjadi pastor kampus di Unwira Kupang dan saat ini menjadi dosen biasa menyampaikan terima kasih kepada SVD yang telah mengajar, melatih dan membimbingnya menjadi seorang biarawan, imam dan misionaris.

Utusan Kapitel General SVD XVI di Roma tahun 2006 ini mengakui dalam perjalanan pelayanannya sebagai imam banyak tantangan dan godaan, namun ia berupaya maksimal untuk mengatasinya dengan menjadikan semuanya sahabat dan saudara.

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para dermawan dan pendidik yang sudah membuat saya berarti,” katanya. (nia)

(Sumber: Pos Kupang, Juni 2009)


Leave a response

Your response:

Categories