Posted by: djarotpurbadi | April 18, 2010

Unik, Arsitektur Permukiman Suku Dawan

KR, Selasa, 13 April 2010

YOGYA (KR) – Staf pengajar Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Ir. Yohanes Djarot Purbadi, MT mengatakan, arsitektur permukiman Suku Dawan, Desa Kaenbaun, Nusa Tenggara mengandung unsur intangible yang unik. Keberadaan Tuhan (Uis Neno) dan nenek moyang (Bei-nai) sangat dihormati. Hal itu dapat dilihat pada tata spasial arsitektur permukiman Kaenbaun.

“Keunikan ini lahir dari jantung budaya masyarakat Kaenbaun yang menyatukan unsur kepercayaan lokal dengan agama Katholik sehingga keberadaan rumah adat suku, gereja Katholik dan batu suci menjadi titik spiritual penting pada arsitektur permukiman Kaenbaun,” kata Djarot Purbadi, Kamis (8/4) dalam ujian terbuka untuk memperoleh gelar doktor dalam Ilmu Teknik Arsitektur di Grha Sabha Pramana UGM.

Pada kesempatan tersebut provendus yang dilahirkan di Yogyakarta 16 Juni 1957 mempertahankan disertasi berjudul “Tata Suku dan Tata Spasial pada Arsitektur Permukiman Suku Dawan di Desa Kaenbaun di Pulau Timor”. Promovendus didampingi tim promotor terdiri atas ketua Prof. Ir. Achmad Djunaedi, MUP., PhD, anggota Dr. Ir. Sudaryono, M.Eng dan Ir. Haryadi, M.Arch., PhD.

Menurut Yohanes tata spasial arsitektur permukiman Kaenbaun didasarkan pada tata suku yang dideklarasikan oleh generasi awal, yaitu tentang aturan hubungan antara kelompok suku laki-laki (lian mone) dan perempuan (lian feto). Tata suku tersebut telah menjadi landasan sakral dan abadi dalam kehidupan suku Dawan dan berkem-bang menjadi pedoman adat lokal dalam kognisi serta memandu perilaku spasial masyarakat Kaenbaun.

“Implikasinya, kognisi tentang tata suku dan berbagai pedoman adat yang diturun-kan mendasari tata spasial arsitektur permukiman Kaenbaun. Tata spasial arsitektur permukiman Suku Dawan di Kaenbaun di-landasi oleh empat nilai lokal yang khas, yakni nilai etno-spiritual, spiritual-kultural, kultural-ekologis, dan etno-ekologis,” ujar sarjana dan magister teknik lulusan UGM ini.

Keempat nilai tersebut menurutnya, hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Kaenbaun. Nilai-nilai itu diwarnai dan mewarnai budaya masyarakat Kaenbaun yang bersumber pada eksistensi faotkana (batu suci), oekana (mata air suci), umesuku (rumah adat) dan ajaran gereja Katholik. Tata suku di Kaenbaun juga meng-atur hubungan struktural semua suku, khu-susnya hubungan antarsuku laki-laki.

Dalam kognisi masyarakat Kaenbaun, hubungan antarsuku merupakan hubungan persaudaraan, tetapi ditata secara hierarkial. Implikasinya, lanjut Yohanes, suku Raja (Basan) terletak di tengah lingkaran karena titik tengah merupakan titik penting dan ditopang oleh empat suku lain, yaitu Timo, Taus, Foni, dan Nel, di empat titik penjuru mata angin.

Beberapa implikasi yang terwujud pada tata spasial permukiman Kaenbaun, antara lain, tatanan rumah adat di pusat Desa Kaenbaun, keberadaan batu suci suku-suku di Kaenbaun. Adanya pola keruangan depan-tengah-belakang, adanya persepsi spasial desa tua dan desa muda, desa lama dan desa baru, desa luar dan desa dalam. Di samping itu, keberadaan area Taksoen yang menjadi lapangan penerima di dekat gerbang desa. (Asp)-s

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 13 April 2010

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.