PUISI EL TALOK
(1) TERINGAT BAPAK DAN MAMA DI TIMOR
[Apa kabar sayangku berdua?
Kutahu jarak memisahkan kita
Kalian jauh di timur
Aku di ujung barat
Waktu membiarkan kita berpisah
Walau kutahu usia rentamu,
Kalian berdua di atas 70, aku tahu
Kekuatanmu mulai berkurang, aku juga tahu
November 2008 ini emas perkawinanmu, aku sadar
Tapi aku tak bisa hadir
Karena tugasku, pengabdianku, panggilanku
Aku telah diutus kepada bangsa-bangsa
Aku telah diperuntukkan bagi banyak suku
Aku bukan saja anak Bapak dan Mama
Aku bukan hanya punya sebelas saudara-saudari
Aku juga punya berjuta keluarga
Aku pun memiliki selaksa saudara-saudari lainnya
Yang harus kuperhatikan
Seperti kalian telah mengurus aku di masa kecil bahkan sampai sekarang
Ya, aku harus mewariskan budi baikmu
Melayani tanpa pamrih
Kucoba
Telah kucoba sejauh ini
Tidak gagal.]
[Bapak, aku rindu cerita-cerita adatmu
Tentang asal-usul Pulau Timor
Tentang Turu Monu, Dina Bada
Tentang Leluhur kita Manuaman Lakaan
Tentang Kerajaan-kerajaan tua di Timor Barat
Tentang Tahakae dan Fehalaran,
Tentang Lamaknen dan Kobalima
Tentang Bobonaro dan Maubara
Tentang Alas Manufahi
Tentang Ramelau Lubarlau
Tentang Wehali dan Likusaen
Tentang Bahasa Tetun dan Dawan
Tentang Bahasa Bunaq dan Kemak
Tentang Sabu Mau, Belu Mau dan Rote Mau
Tentang Larantuka Bauboin
Tentang Leluhur kita Proto-Melayu
Tentang Sina Deru Laka Deru
Tentang Sina Barasi Laka Barasi
Tentang Sina Mutin Malaka
Tentang Nusantara
Tentang Indonesia Pusaka.]
[Bapak, aku teringat ajaranmu:
Tentang bekerja keras
Tentang memelihara ternak
Tentang berkebun yang baik
Tentang menjaga hutan adat dan mata air
Tentang tarian meronggeng Haksoke
Tentang tarian tandak Tebe
Tentang berjuang mencapai cita-cita
Tentang percaya diri
Tentang berlaku bijak
Tentang berbicara yakin di depan umum
Tentang berbalas pantun
Tentang menulis artikel kebudayaan
Tentang mengajar yang baik
Tentang menjadi pahlawan
“memuliakan Tuhan lewat memanusiakan sesama”
Ah, aku rindu setengah mati.]
[Mama, aku kangen
Akan kesabaranmu
Mengajar tiga saudariku menenun tais bermotif ikat Tasifeto, Belu Utara
Mengajar cucu-cucumu perempuan menabuh gendang tihar sambil menari Likurai
Mengajar kami mendendangkan tembang Oras Loro Malirin
Mengajar kami berlaku ramah dan santun terhadap kaum-kerabat
Mengajar kami tabah dan bijak dalam situasi sulit
Mengajar kami menolong dengan tulus sesama yang menderita
Ah, rinduku tak tertahankan.]
[Bersabar!
Itu kata paling tepat
Teringat aku pantun leluhur:
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang
Tentulah kita berjumpa pula.]
[Salam buat kalian berdua
Juga buat kesebelas saudara-saudari
Tak lupa kedua rumah-suku Bapak dan Mama
Di Turiskain dan Alas
Tanah Belu, Batas Timor Leste
Serta semua handai-taulan
Di Tanah Timor Manise
Di Tenggara Nusantara
Cinta selalu.]
[Ananda]
(Roma, 8 Agustus 2008)
(2) SELEMBAR KAIN TENUN IKAT MAMA
(Mengenang Mendiang Inaklaran Kan)
[Aku terpaku
Pada selembar kain tenun ikat
Yang sangat kusukai
Sebagaimana aku mencintai pemberinya:
Mama.]
[Hatiku bersuka
Walau telah belasan tahun kusimpan
Warnanya tetap cerah.]
[Namun yang kusedihkan
Mengapa Mama tidak lagi sebugar dulu?
Mama tak lagi secerah warna kain tenunannya?]
[Benar
Tahun pun lewat
Mama menghilang dari muka bumi
Lenyap sama sekali
Membuat aku menangis berbulan-bulan
Membuat aku sedih bermusim-musim.]
[Ah, untunglah
Selembar kain Mama masih kusimpan
Warnanya pun masih cerah
Jika demikian,
Mama kan tidak hilang sama sekali
Aku menangis dan tersenyum tipis bersamaan:
Keberadaan Mama masih tampak begitu nyata di depanku.]
[Terimakasih benang dan alat tenun atis
Terima kasih kain tenun ikat Alas Kobalima
Terima kasih Mama
Syukur, ya Allah Pencipta:
Dikau Seniman Agung Mulia.]
(Tilomar, Timor Leste, 12 Mei 2006).
(3) MENANGIS CINTA
[Penasaran aku jadinya melihat orang itu.]
[Aku bertanya dalam hati:
“Menangis terus, kenapa?
Terus menangis, kenapa sih?
Terus menangis-nangis, ada apa?
Menangis terus-menerus, ada apa ya?”]
[Akhirnya aku coba mendekati dan bertanya:
“Kenapa menangis?
Kok menangisnya panjang banget?”]
[Masih dalam menangis ia menyahutku dengan sesenggukan:
“Sebenarnya aku bukan penangis
Tapi aku harus menangis
Aku mesti terus menangis
Biar tangisannya panjang
Biar panjang banget tangisannya”]
[“Lho, emang lagi latihan buat lomba nangis?” aku terhenyak]
[“Enak aja, emang gampang menangis dilombakan?
Bakal nggak ada peserta, tau?” bantahnya]
[“Lantas?” selidikku]
[Ia pun berhenti menangis
Dan dengan tenang namun pasti berkata lirih:
“Aku lagi butuh cinta
Eh, malah diputusin.”]
[“Ha?” refleksku.]
[“Aku butuh cinta,” jeritnya]
[“Dengan siapa?
Siapa yang mutusin?” usutku]
[Ia menjawab aku:
“Atas pertanyaanmu, aku akan kembali menangis
Lebih panjang lagi.”]
[Lalu ia melanjutkan pekerjaannya:
Menangis lebih panjang lagi]
[Untuk membiarkannya menangis lebih panjang lagi,
aku pun berlalu dari tempat itu.]
[Pikirku,
“Ia lagi senang menangis. Menangis cinta!”]
(Luzon, Filipina, 16 Februari 2008)
*****
CATATAN: Emanuel Lelo Talok (biasa dipanggil El Talok), rohaniwan Katolik, lahir di Lahurus, Kabupaten Belu, Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 35 tahun silam; melewati masa kecil di Timor, dan masa remajanya di Ende, Flores; menempuh pendidikan tingginya di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (1993-1999), Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Jogjakarta (2000-2003); kini berkarya di Kota Roma, Italia. “Menulis puisi, cerpen dan artikel adalah hobby saya sejak kecil. Indonesia, Timor Leste, Filipina dan Italia, tempat-tempat di mana saya pernah atau sedang menetap untuk beberapa lamanya, telah memberikan saya inspirasi untuk lebih giat menulis puisi, cerpen dan artikel budaya. Sukses buat semuanya.
SALAM KENAL BUNG, AKU EL TALOK, SAHABAT BARUMU DARI TIMOR, SEKARANG JAUH DI PERANTAUAN. eltalok@yahoo.com
By: El on March 2, 2009
at 10:17 pm